Property Kita.com

”PropertyKita.com

Rabu, 17 Juni 2009

Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal

Di post sebelumnya telah saya sampaikan bahwa bagaimanapun mahasiwa baru perlu dberi pengondisian keras sesuai dg definisi yg telah saya berikan. Namun ospek dengan model semi militeristik ini “hanya” akan efektif bila dijalankan oleh pihak militer itu sendiri. Nah, lantas apakah itu artinya mahasiwa tidak mampu atau tidak sebaiknya menjadi pelaksana ospek? Tidak juga, karena yg penting tentang ospek bukanlah pilihan metodologinya (apakah pake perploncoan atau yang lain), melainkan tujuan dan esensi yang diupayakan darinya.
ospek perploncoan ngemong Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal
Ospek - ajangnya ngemong mahasiswa baru

Ketika mahasiswa menjadi pelaksana ospek, apa yang perlu kita perhatikan di sini adalah untuk menempatkan pengkaderan massal (Ospek) dalam porsi yang sewajarnya. Kita perlu ingat bahwa selain ospek masih ada event pengembangan diri lain seperti Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, Achievement Motivation Training atau yang lain. Ospek tidak perlu mengambil tujuan belajar yang terlalu muluk.

Membentuk mahasiswa profesional bermental pemimpin yang memiliki sikap kritis, kreatif, inisiatif, proaktif, berpikiran luas, berintegritas pribadi yang dilandasi kejujuran, kebenaran, dan keadilan.

Memang tujuan yang bagus, tapi tidakkah itu berlebihan? Bahkan training atau workshop pengembangan diri profesional saja berhati-hati dalam membuat ukuran sukses para lulusannya. Sekedar maksud baik saja belum cukup, kita juga perlu realistis dan miliki kompetensi yang cukup untuk mewujudkan maksud baik itu.

Secara riil, kita tidak mungkin mencapai tujuan yang muluk2 untuk event yang diikuti oleh banyak peserta dengan waktu yang singkat dengan kompetensi pengkader yang belum bisa 100% kita standarkan. Secara umum, tujuan untuk membangun, menumbuhkembangkan, meningkatkan dan apapun yang intinya bukan membentuk adalah tujuan yang terbilang realistis. Semisal begini:

  1. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Jangan dianggap sekedar sbg formalitas. Peningkatan ketakwaan adalah bangunan dasar untuk membangun peran fungsi sbg mahasiwa. Sebelum dia bisa menjadi agen perubah dan iron stock, hal pertama yang harus dibentuk adalah kekuatan moralitas yang itu bukan hanya berdasar pada conscience atau common sense, melainkan lebih utama dari ajaran agama masing2.
  2. Meningkatkan rasa bangga terhadap almamater dan tanah air. Ini penting untuk membentuk arogansi produktif yang menjadi modal untuk bersedia proaktif menghilangkan cela, membangun prestasi dan reputasi fenomenal dari almamater dan juga tanah air.
  3. Membina kebersamaan, solidaritas dan kekeluargaan di antara maba dan warga. Ndak enak banget rasanya klo kampus hanya jadi tempat untuk ndapetin materi dari dosen, guyon ama beberapa orang, habis gitu pulang. Kampus sungguh akan jadi tempat yang lebih nyaman dengan adanya keakraban antar dosen mahasiswa dan juga karyawan.
  4. Menumbuhkembangkan sikap peka, peduli dan solutif. Ini semua adalah sikap yang perlu ditujukan kepada sesama rekan satu angkatan dan juga seluruh civitas yang ada. Kampus adalah salah satu tempat pembelajaran terlama kita, sehingga amatlah layak bagi kita untuk menjalaninya dengan penuh saling peduli sebagaimana layaknya sebuah keluarga.

Itu semua adalah tujuan umumnya, maka secara umum esensi dari ospek atau pengkaderan massal mahasiswa baru adalah sebagai berikut:

1. Akselerasi Perkenalan.

Sebenarnya tanpa ospek pun mahasiswa juga akan saling mengenal. Cuman masalahnya seberapa lama mereka akan pada akhirnya saling kenal, dan juga berapa banyak mahasiswa baru yg bersedia untuk berkenalan. Nyatanya, masih (lebih) banyak mahasiswa baru yang enggan berkenalan dengan seluruh rekan2nya di awal kecuali kalo dianjurkan dengan pengawasan atau dipaksa atau diarahkan oleh senior2nya. Maka adalah tujuan Ospek untuk mempercepatnya proses perkenalan mereka.

  • Mempercepat saling kenal satu maba dengan yang lain, dan juga dengan senior, dosen, satpam dan karyawan
  • Mengenalkan sejarah kampus, kebesaran2 yang pernah diraih, dan harapan2 jurusan/kampus di masa depan
  • Mengenalkan roadmap perjalanan di kampus, secara akademis maupun non-akademis (kemahasiswaan)
  • Memperkenalkan himpunan, aktivitas2 yang dilakukannya, dan bagaimana itu semua menguntungkan mereka (maba)

Poin-poin berikutnya intinya adalah akselerasi adaptasi.

hugging kittens Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal

Tujuan Ospek adalah untuk mbikin saling kenal. So, berhati-hatilah untuk tidak meninggalkan dendam dan permusuhan antar personal atau bahkan antar angkatan (biasanya antar dua angkatan terdekat) akibat dari pengondisian yang salah.

2. Membuat Maba jadi Familiar dengan Dunia Perkuliahan.

Memasuki dunia perkuliahan, maba akan menemukan dunia yang baru; sistem kuliah SKS, praktikum, responsi, asistensi, begadang untuk kerjakan tugas, main game mulltiplayer, atau nonton film rame :mrgreen: Apapun yang akan dijalani, maba akan sangat terbantu ketika diberi preview dan juga kiat oleh para senior. Masih banyak maba yang terlalu malu untuk bertanya, atau seringkali mereka bahkan tak tau apa2 saja yang perlu ditanyakan. Semakin maba mengetahui apa2 yang bakal mereka jalani, semakin besar juga rasa percaya diri serta persiapan diri untuk menghadapinya.

Untuk itu, maka silahkan Anda para senior lakukan brainstorm dengan sesama rekan terkait apa2 saja yang biasa dialami oleh mahasiswa dari jurusan/kampus Anda. Misal klo untuk mahasiswa kedokteran; bahwa pada dua tahun pertama akan banyak menghabiskan waktu di laboratorium dan kelas, ambil mata kuliah seperti anatomi, biokimia, patologi dst (di-list dan dijelaskan). Pada akhir dari tahun ke-2 mulai dipertemukan dg pasien dg bimbingan dari dokter atau gimana. Intinya adalah timelining, mulai dari semester pertama hingga lulus apa2 saja yg akan dijalani, apa2 saja yg dipelajari, semua berdasarkan urutan.

Buat maba menjadi lebih cepat familiar dengan dunia perkuliahan, baik di kampus maupun di kost-kostan. Dengan demikian mereka akan bisa gunakan waktu2 awal mereka di kampus tidak lagi untuk berjalan meraba belajar dan menerka nerka, melainkan untuk langsung berlari dan berkiprah nyata.

cookiecat Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal

Apa2 yang Anda pernah alami -yang bodoh, lucu, nggilani atau yg lain- entah di praktikum atau di kejadian keseharian, itu semua tidak hanya akan membuat maba bisa belajar sesuatu, namun juga membuat maba menjadi merasa lebih dekat dengan Anda.

you make bunny cry Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal

Bahkan pengalaman sedih Anda tidak akan membuat wibawa Anda sebagai senior hancur. Beneran.

3. Membuat Maba Menjadi Familiar dengan Dunia Kerja Mereka.

Ini juga penting. Bukan hanya perlu tahu dunia perkuliahan, maba juga perlu dikenalkan secara dini dengan dunia kerja dan apa-apa yang akan terjadi di sana. Sewaktu masih SMA, banyak siswa yang memilih jurusan tertentu dengan pemahaman yang sepotong2, atau malah bisa jadi sekedar ikut2an teman. Para senior bisa membantu maba mengenal esensi dan tabiat kerja sesungguhnya dari dunia profesi tertentu. Dengan lebih mengenal, diharapkan juga akan muncul penghargaan dan kebanggaan yang sepatutnya pada keprofesian yang akan dijalani.

So, untuk ini Anda perlu tahu bagaimana sih jobdesc, jenis profesi terkait, lingkungan dan tabiat kerja, dan apapun yang membuat orang awam jadi familiar dengan keprofesian Anda. Misal untuk kasus fakultas kedokteran, Anda bisa menceritakan bagaimana kondisi kerja seorang tenaga medis, semisal terkait waktu + durasi kerjanya, mobilitasnya, lingkup aktivitasnya, dsb. Samakan dulu persepsi yg maba terkait definisi, tanggung jawab dan jobdesc dari beragam profesi di dunia medis, semisal dokter, perawat, pharmacyst, dsb.

Anda bisa mengundang para alumni untuk berbagi pengalaman mereka. Dan Anda pun tidak harus berbicara tentang dunia kerja pasca kelulusan. Silahkan juga berbagi tentang pengalaman kerja selama masih kuliah.

4. Membuat Maba menjadi Familiar dg Cara Belajar ala Mahasiswa.

Karena sudah masuk di jurusan tertentu, maka di sana akan banyak ilmu2 dan wawasan spesifik yang bisa dimengerti dan dihapalkan dengan metode dan trik tertentu. Ini biasanya turun menurun, bisa jadi datang dari dosen atau mahasiswa. Pun juga strategi dalam menghadapi praktikum, penugasan besar pribadi dan kelompok, pasti deh ada contoh sukses atau best practice yg bisa ditiru.

Di sini juga lah para senior boleh mejeng dengan pantas. Bagi Anda yang punya prestasi dan punya cara belajar yang efektif-efisien-menyenangkan, Anda boleh berharap dapat penghormatan dan pujian dari maba (maksudnya, daripada berharap dapat ‘penghormatan’ dengan perploncoan)

So, silahkan brainstorm juga dengan sesama rekan: Bagaimana cara menghapal konsep tertentu, cara menjalani dan merampungkan praktikum tertentu, cara memahami cara mengajar dosen tertentu, cara bisa menguasai mata kuliah tertentu, bagaimana cara kerja kelompok yang sip, dan sebagainya. Tidak hanya itu, Anda juga bisa berbagi informasi tentang tempat printing yang bagus dan murah, tempat fotokopi yang buka sampe malem, tempat rental komputer dg koneksi internet murah, dsb.

Setiap Anda bukan hanya punya skill dan wawasan, namun juga punya informasi berharga yang bisa dibagi. Lebih jauh lagi, Anda pasti juga punya beragam pembelajaran berharga yang baru Anda temukan baru setelah 3 tahun menjalani perkuliahan. Sungguh deh, maba akan sangat terbantu ketika bisa belajar tentangnya dari Anda.

mba0208l Tujuan dan Esensi Ospek Pengkaderan Massal

Maba amat haus akan sosok teladan, berhati-hatilah dalam membagi informasi dan menularkan pengaruh.

Sekali lagi, kita tidak perlu menjadikan ospek ini sebagai ajang untuk menuntaskan beragam tujuan yang secara realitas dipenuhi di wadah pengembangan diri yang lain. Kita hanya perlu berikan gambaran besarnya sekaligus beri informasi di mana saja wadah2 itu berada.

Wadah Pengembangan Academic (Technical) Competencies

  1. Perkuliahan & penugasan yg menyertainya
  2. Praktikum & asistensi
  3. Aktivitas laboratorium (riset & pengembangan, terlepas dari praktikum)
  4. Kuliah tamu
  5. Diskusi non formal
  6. Studi Club/Discussion Group/Interest Community/Research Club (kalo di Informatika misalnya komunitas Linux Informatika)
  7. Study Excursie
  8. Study Tour (berbeda dg SE yg dilakukan sekali oleh setiap angkatan, Study Tour dimaksudkan utk menunjang perkuliahan tertentu, sehingga bisa dilakukan scr berkala)
  9. Magang
  10. Kerja praktek
  11. Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa
  12. Asosiasi Profesi

Wadah Pengembangan Soft Competencies

  1. Ospek Rektorat
  2. Ospek BEM Institut dan Fakultas (iya kan J )
  3. Pengaderan masal mahasiswa baru tingkat Jurusan, Fakultas & Institut (terlepas dari perdebatan mengenai tingkat efektifitas & metodologi)
  4. Kegiatan kemahasiswaan di Himpunan, Fakultas, Institut, Unit Kegiatan Mahasiswa dan Organisasi Ekstra Kampus (HMI, KAMMI dsb)
  5. Berbagai pelatihan, workshop, seminar & bedah buku
  6. Aktivitas Magang (termasuk yang mandiri)
  7. Kerja praktek

Kita juga kasih contoh bagaimana konkrit aktivitas di ormawa seperti di BEM membantu meningkatkan soft skill;

  1. Mengejar deadline pelaksanaan kegiatan, meninggalkan aktivitas hiburan yg berlebihan, menyeimbangkan dg aktivitas kuliah à melatih Keterampilan Memimpin dan Memotivasi Diri Sendiri
  2. Bekerja dalam tim untuk menjalankan amanah kegiatan dan aktivitas organisasi, termasuk berinteraksi dg orang lain, dengan sesama mahasiswa, dosen, pihak birokrat, sponsor dsb à Melatih Kecakapan & keterampilan Sosial/skill interpersonal
  3. Rapat, presentasi proposal di hadapan rekan kerja, pihak birokrat atau sponsor, menjadi pemandu à melatih kemampuan komunikasi
  4. Menjalankan organisasi, Planning - Organizing - Actuating - Controling à melatih keterampilan manajemen, mengorganisasi dan mengimplementasi
  5. Memimpin tim kerja, biro atau departemen à melatih keterampilan kempemimpinan
  6. Dsb.. tinggal cari aja
Sumber: http://akhmadguntar.com/wawasan/tujuan-dan-esensi-ospek-pengkaderan-massal/

Soal SNMPTN Mendatang Berubah

Wednesday, 03 June 2009 14:16

Materi soal untuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada 1-2 Juli 2009 nanti dibuat berbeda dari materi soal tahun lalu.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Umum SNMPTN 2009 Prof H. Haris Supratno di Jakarta, Kamis (28/5). Haris mengatakan, materi soal yang bersifat prediktif tersebut nantinya akan menjadi acuan untuk bisa mengetahui potensi calon mahasiswa sesuai program studi pilihannya.

Haris menambahkan, materi soal SNMPTN kali ini tidak mengulang materi yang sudah diujikan pada Ujian Nasional (UN) SMA/Sederajat. Soal-soal dibuat di luar kurikulum SMA/Sederajat untuk bisa melihat kemampuan dan kelulusan siswa yang akan menimba ilmu di bangku kuliah sesuai program studi yang dipilih.

"Kita ingin membuat tes SNMPTN ini beda dengan UN," kata Haris.

Pada penyelenggaraan SNMPTN tahun 2009 lalu, tambah Haris, tes yang dihadapi oleh calon mahasiswa adalah tes potensi akademik atau semacam tes psikologi, tes bidang studi dasar (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika), serta tes bidang studi IPA (Fisika, Kimia, dan Biologi) atau IPS (Ekonomi, Sosiologi, Sejarah, dan PPKN).

Biaya pembelian formulir pendaftaran SNMPTN untuk Kelompok IPA/IPS sebesar Rp 150.000, sedangkan Kelompok IPC Rp 175.000. Untuk tahun ini, daya tampung calon mahasiswa di 57 PTN diperkirakan mencapai 85.000-90.000 kursi.

Menurut Haris, hasil tes SNMPTN tahun ini diberi bobot yang berbeda. Untuk tes potensi akademik bobotnya 30 persen dan bidang studi 70 persen. Pembobotan itu dibedakan dengan program studi yang ada ujian praktiknya, seperti program studi olah raga dan seni.

Sementara itu, bobot untuk tes potensi akademik dan bidang studi ditetapkan 60 persen, sedangkan untuk bobot tes praktik ditetapkan sebesar 40 persen. "Dulu tes praktik cuma ditentukan lulus dan tidak lulus. Kebijakan seperti itu merugikan calon mahasiswa, karena itu mulai tahun ini ujian praktik diberi pembobotan," kata Haris. (Sumber: Kompas, 29 Mei 2009).

Selasa, 02 Juni 2009

Lomba Karya Tulis Dalam Rangka Hari Pahlawan Tahun 2009


Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November 2009 Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta Mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Dengan Tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa”.

A. KETENTUAN LOMBA

Karya tulis harus asli, bukan kutipan, terjemahan atau saduran dari tulisan orang lain, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis manapun, serta belum pernah dipublikasikan.

Karya tulis disusun dengan menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dalam bentuk ilmiah populer, dan harus mengacu salah satu judul yang telah ditetapkan panitia.

Karya tulis diketik dengan jarak 2 (dua) spasi menggunakan kertas HVS ukuran kuarto sebanyak 15-20 halaman tidak timbal balik (tidak termasuk lampiran, daftar isi, dan foto).

Karya tulis yang jumlah halamannya kurang atau melebihi dari ketentuan tersebut tidak akan dinilai oleh dewan juri.

Lomba bersifat karya individu, bukan kelompok. Masing-masing peserta bisa mengirim maximal 2 (dua) judul.

Karya tulis dibuat rangkap tiga dan dikirim langsung atau melalui pos dalam amplop tertutup pada sudut kiri atas amplop ditulis ” Lomba Karya Tulis Kesejarahan ”, atau dapat diserahkan langsung ke panitia Lomba Karya Tulis Kesejarahan yang beralamat di Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta, Jl. Brigjen Katamso No. 139 Yogyakarta, Telp. (0274) 373241

Karya tulis dilengkapi dengan identitas diri sebagai berikut :

a. Nama, tempat dan tanggal lahir peserta

b. Foto copy kartu pelajar atau surat keterangan sekolah, nomor telepon sekolah atau fax, nomor telepon peserta (HP)

Karya tulis yang masuk menjadi hak panitia sepenuhnya.

Lomba karya tulis dimulai tanggal 1 April 2009 dan ditutup tanggal 15 Oktober 2009 (cap pos).

B. JUDUL

Adapun judul-judul yang bisa dipilih oleh peserta sebagai berikut :

1. Kepahlawanan di mata generasi muda

2. Nilai-nilai kepahlawanan di era reformasi

3. Pendapat saya tentang sosok pahlawan

4. Menyambut hari Pahlawan tahun 2009 : Potret Diri Anak Zaman

5. Generasi muda sebagai pewaris nilai-nilai kepahlawanan

6. Dengan semangat kepahlawanan kita wujudkan persatuan dan kesatuan bangsa

7. Nilai-nilai kepahlawanan dalam pembentukan karakter bangsa

8. Nilai-nilai kepahlawanan sesuai jiwa zaman

9. Nilai-nilai kepahlawanan dan semangat generasi muda dalam melestarikan kehidupan bangsa

10. Pahlawan dan jati diri bangsa

Minggu, 03 Mei 2009

Sortimen Kayu Rimba (SNI 01-5008.1-1999)


Gambar 1. Balok (Baulk)



Gambar 2. Broti (Scantlings)


Gambar 3. Papan Lebar (Boards)



Gambar 4. Papan Lis (Strips)



Gambar 5. Kayu Gergajian Pendek (Shorts)



Gambar 6. Papan Sempit (Narrow Boards)



Gambar 7. Papan Tebal (Planks)

Semua gambar di atas dapat di download di http://bpas.multiply.com/journal/item/14/Sortimen_Kayu_Rimba_SNI_01-5008.1-1999

Biar lebih jelas, nih SNI-nya ...

Kayu Gergajian Rimba

Standar Nasional Indonesia
SNI 01-5008.1-1999/
Revisi SNI 01-0191-1987

KAYU GERGAJIAN RIMBA

1. Ruang lingkup

Standar ini meliputi acuan, definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, pembuatan, syarat mutu, syarat ukuran, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan dan pengemasan, sebagai pedoman pengujian untuk semua gergajian rimba yang diproduksi di Indonesia, kecuali yang sudah ada SNI-nya.

2. Acuan

The Malaysian Grading Rules for Sawn Hardwood Timbers, Edition 1984.

3. Definisi

Kayu gergajian adalah kayu persegi empat dengan ukuran tertentu yang diperoleh dengan menggergaji kayu bundar atau kayu lainnya. Sedangkan kayu gergajian rimba adalah kayu gergajian selain Jati.

4. Lambang dan Singkatan

4.1. p   adalah panjang kayu gergajian  4.7.  mt adalah permukaan tebal  4.2. t   adalah tebal kayu gergajian    4.8.  ml adalah permukaan lebar 4.3. l   adalah lebar kayu gergajian    4.9.  Ø  adalah diameter cacat 4.4. bh  adalah buah                    4.10. pj adalah panjang cacat 4.5. jml adalah jumlah                  4.11. lb adalah lebar cacat 4.6. btg adalah batang              

5. Istilah

5.1. Bontos adalah penampang melintang pada kedua ujung kayu gergajian.

5.2. Busuk adalah suatu proses penghancuran kayu yang disebabkan oleh jamur.

5.3. Cacat adalah suatu kelainan yang terdapat pada kayu yang dapat mempengaruhi mutu.

5.4. Cacat bentuk pada kayu gergajian, adalah kelainan atau penyimpangan bentuk yang disebabkan antara lain oleh pengeringan dan cara menggergaji yang salah, terdiri dari:

5.4.1. Bentuk permata (diamonding) adalah cacat yang disebabkan oleh perbedaan penyusutan kearah tangensial dan radial, sehingga bontosnya tidak berbentuk segi empat siku tetapi berbentuk jajaran genjang.

5.4.2. Lengkung (Le) adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah tebal.

5.4.3. Membusur adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah panjang.

5.4.4. Mencawan adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah lebar.

5.4.5. Memuntir atau mellincang adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah diagonal, apabila kayu tersebut diletakkan pada suatu permukaan yang datar dan rata, maka salah satu tepi sudutnya tidak bersentuhan dengan permukaan.

5.5. Cacat khas adalah cacat yang merupakan ciri khas jenis kayu tertentu, yang dalam penilaian cacatnya dianggap bukan cacat, antara lain:

  1. Lubang gerek kecil pada kayu Kapur dan Cengal.
  2. Saluran getah pada kayu Pulai, Jelutung dan Jongkong.
  3. Gelam tersisip pada Kayu Kempas dan Tualang.

5.6. Cacat ukuran adalah bagian kayu yang sudah melebihi toleransi ukuran lebih tetapi belum salah potong.

5.7. Diameter cacat (Ø) adalah rata-rata panjang dan lebar cacat.

5.8. Gelam tersisip adalah bakal kulit yang terkubur dalam bagian kayu.

5.9. Gubal adalah bagian dari kayu yang terdapat antara teras dengan kulit, biasanya berwarna lebih terang dari terasnya.

5.10. Gubal segar (Guse) adalah gubal yang masih memiliki warna aslinya atau apabila sudah berubah warna, masih dapat dihilangkan pada waktu penyerutan, asalkan tidak mengurangi ukuran baku.

5.11. Hati (empulur) adalah bagian tengah dari bontos kayu.

5.12. Kadar air (Ka) adalah jumlah kandungan air yang terdapat di dalam kayu dinyatakan dalam %.

5.13. Kantung damar atau getah adalah rongga yang terdapat di antara lingkaran tumbuh atau tempat lainnya di dalam kayu yang sebagian atau seluruhnya berisi getah padat maupun cair.

5.14. Kayu kurang adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksanaan mempunyai ukuran yang kurang dari ukuran baku.

5.15. Kayu lebih adalah kayu gergajian yang pada wakyu pemeriksaan mempunyai ukuran yang lebih dari ukuran baku.

5.16. Kayu pas adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksaan mempunyai ukuran yang sama dengan ukuran baku.

5.17. Kulit tersisip adalah kulit yang terkubur oleh kayu, apabila kulitnya hilang dapat mengakibatkan celah atau lubang pada kayu.

5.18. Lubang gerek (Lg) adalah lubang yang disebabkan oleh serangga Oleng-Oleng, Inger-Inger atau penggerek lainnya. Berdasarkan besarnya diameter dibagi menjadi:

  1. Lubang gerek kecil (Lgk), Ø < 2 mm.
  2. Lubang gerek sedang (Lgs), Ø antara > 2 mm s/d 5 mm.
  3. Lubang gerek besar (Lgb), Ø > 5 mm.

5.19. Lubang gerek gerombol adalah lubang gerek yang jumlahnya lebih dari 6 buah pada permukaan kayu yang luasnya 450 cm2.

5.20. Lubang gerek tersebar adalah lubang gerek yang jumlahnya tidak lebih dari 6 buah pada permukaan kayu yang luasnya 450 cm2.

5.21. Mata kayu (Mk) adalah bagian dari cabang atau ranting yang dikelilingi oleh pertumbuhan kayu, penampang lintangnya berbentuk bulat atau lonjong, terdiri dari:

5.21.1. Mata kayu sehat (Mks) adalah mata kayu yang bebas dari pembusukan, bepenampang keras dan berwarna sama atau lebih tua dari pada warna kayu disekitarnya.

5.21.2. Mata kayu tidak sehat (Mkts) adalah mata kayu yang sudah terserang penyakit yang ditandai dengan sudah berubahnya warna dari warna aslinya, tetapi masih berpenampang keras.

5.21.3. Mata kayu busuk (Mkb) adalah mata kayu yang menunjukkan tanda pembusukan. Bagian kayunya lebih lunak dibandingkan dengan kayu di sekitarnya.

5.21.4. Lubang mata kayu (Lmk) adalah mata kayu yang sudah lepas atau berlubang akibat dari berlanjutnya pembusukan atau akibat lainnya.

5.22. Partai kayu gergajian adalah sejumlah kayu gergajian yang akan diperdagangkan dan atau diperiksa mengenai kebenaran jenis, ukuran dan mutunya, yang berada di tempat asal pengiriman maupun di tempat tujuan.

5.23. Permukaan adalah kedua permukaan lebar (ml) dan kedua permukaan tebal (mt) kayu gergajian.

5.24. Permukaan bersih (Mb) adalah bagian kayu gergajian yang bebas dari segala cacat.

5.25. Permukaan sehat (Ms) adalah bagian kayu gergajian yang mempunyai cacat ringan (Cr).

5.26. Permukaan pengujian adalah permukaan tempat dilakukan pengamatan, pengukuran dan penilaian cacat serta perhitungan persentase potongan Mb atau potongan Ms dari sekeping/sebatang kayu gergajian.

5.27. Permukaan terbaik adalah permukaan kayu gergajian dengan jumlah cacat paling sedikit, atau yang menghasilkan persentase potongan Mb yang lebih besar.

5.28. Permukaan terjelek adalah permukaan kayu gergajian dengan jumlah cacat paling banyak atau lebih berat, dan yang menghasilkan potongan Mb yang lebih kecil.

5.29. Perubahan warna adalah penyimpangan warna dari warna asli kayu yang disebabkan oleh sifat genetis seperti alur kayu, maupun sebab lain seperti noda karena jamur (blue stain), terbakar matahari, air masuk dan reaksi kimia dari besi mesin.

5.30. Pingul adalah tidak sempurnanya sudut-sudut kayu gergajian, sehingga penampang lintang kayu gergajian yang mempunyai cacat tersebut mempunyai sudut lebih dari empat.

5.31. Potongan adalah suatu bidang empat persegi panjang, yangdibuat pada permukaan pengujian kayu gergajian dengan ukuran tertentu, guna menetapkan Mb atau Ms.

5.32. Salah potong adalah kayu gergajian yang mempunyai perbedaan ukuran antara tebal atau lebar terkecil dengan tebal atau lebar terbesar telah melebihi toleransi ukuran lebih seperti tercantum pada Tabel 7.

5.33. Saluran getah adalah saluran yang arahnya sejajar dengan jari-jari kayu, umumnya berwarna gelap.

5.34. Sortimen adalah kelompok kayu gergajian dengan ukuran tertentu.

5.35. Serat miring adalah serat kayu yang arah penyimpangannya melebihi 1 : 10.

5.36. Terpisahnya serat adalah celah pada kayu yang disebabkan oleh terpisahnya atau terputusnya serat pada arah memanjang atau sejajar dengan sumbu kayu, terdiri dari:

5.36.1. Retak (Re) adalah terpisahnya serat pada permukaan kayu yang lebar celahnya < 2 mm dan biasanya terputus-putus disebabkan terutama oleh tegangan yangterjadi dalam proses pengeringan.

5.36.2. Pecah tertutup, adalah terpisahnya serat pada permukaan kayu hingga bontos yang lebar celahnya < 6 mm dan tidak menembus permukaan lainnya.

5.36.3. Pecah terbuka adalah terpisahnya serat pada permukaan bontos yang lebar celahnya < 6 mm dan menembus permukaan lainnya.

5.36.4. Belah (Be) adalah terpisahnya serat pada permukaan kayu yang lebar elahnya > 6 mm, baik menembus maupun tidak menembus permukaan lainnya.

5.36.5. Pecah melintang adalah terputusnya serat, memotong arah serat pada umumnya.

5.36.6. Pecah miring atau slemper adalah terpisahnya serat dari arah permukaan lebar ke permukaan tebal kayu gergajian.

5.37. Toleransi adalah batas penyimpangan yang masih diperkenankan.

5.38. Ukuran baku adalah ukuran yang telah ditetapkan atau disepakati sesuai dengan permintaan atau kontrak.

5.39. Ukuran lebih adalah kelebihan ukuran di atas ukuran baku

6. Spesifikasi

6.1. Cacat kayu gergajian

Cacat kayu gergajian dikelompokkan menjadi, cacat ringan, cacat sedang dan cacat berat.

6.1.1. Cacat ringan (Cr) terdiri dari :

  1. Mata kayu sehat,
  2. Gubal,
  3. Kantung damar Ø < 3 cm,
  4. Lubang gerek kecil atau sedang tersebar,
  5. Jamur yang apabila diserut tidak mengurangi ukuran baku,
  6. Gelam tersisip,
  7. Saluran getah,
  8. Retak matahari, dan
  9. Retak saluran getah.

6.1.2. Cacat sedang (Cs) terdiri dari :

  1. Kantung damar Ø > 3 cm,
  2. Kulit tersisip,
  3. Lubang gerek kecil gerombol,
  4. Lubang gerek sedang kena jamur,
  5. Lubang gerek sedang tembus,
  6. Lubang gerek besar tersebar tidak tembus,
  7. Lubang mata kayu tidak tembus,
  8. Mata kayu tidak sehat,
  9. Mata kayu busuk tidak tembus, dan
  10. Cacat ukuran

6.1.3. Cacat berat (Cb) atau cacat yang tidak diperkenankan terdiri dari :

  1. Lubang gerek besar tembus,
  2. Lubang gerek sedang atau besar bergerombol,
  3. Lubang mata kayu tembus,
  4. Mata kayu busuk tembus,
  5. Salah potong,
  6. Serat miring,
  7. Pingul, untuk beberapa kelas mutu, dalam batas tertentu, masih diperkenankan,
  8. Busuk,
  9. Pecah melintang,
  10. Pecah terbuka,
  11. Pecah miring atau slemper,
  12. Pecah tertutup, untuk beberapa kelas mutu, dalam batas tertentu, masih diperkenankan,
  13. Belah,
  14. Cacat bentuk, kecuali lengkung dan membusur untuk beberapa kelas mutu dan batas tertentu, masih diperkenankan.ni

6.2. Sortimen kayu gergajian

Spesifikasi kayu gergajian dapat digolongkan berdasarkan sortimennya menjadi : papan lebar, papan tebal, papan sempit, papan lis, balok, broti dan kayu gergajian pendek. Ukuran dari masing-masing sortimen tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ukuran sortimen moulding kayu jati

No. Sortimen Tebal (Cm) Lebar (Cm) Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Papan lebar (Boards)

Papan tebal (Planks)

Papan sempit (Narrow boards)

Papan lis (Strips)

Balok (Baulk)

Broti *) (Scantlings)

Kayu gergajian pendek (Shorts)

< 5,0

> 5,0

< 5,0

<>

> 10

> 1/2 l

-

> 15

> 15

10 - <>

<>

> 20

-

-

-

t <>

-

-

berhati

-

p <>

Keterangan : *) terdiri dari broti besar (luas bontos > 400 cm2) dan broti kecil (luas bontos < 400 cm2)

7. Klasifikasi

Kayu gergajian diklasifikasikan berdasarkan mutu penampilan dengan persyaratan cacat tertentu dibagi menjadi 4 (empat kelas mutu yaitu mutu pertama (P), mutu kedua (D), mutu ketiga (T) dan mutu keempat (M).

8. Pembuatan

Proses pembuatan kayu gergajian dikerjakan sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan bentuk dan ukuran yanng dikehendaki dengan mutu terbaik dengan ketentuan sebagai berikut:

8.1. Sisi-sisi sejajar, sudut-sudut siku dan bontos dipotong siku dan rata.

8.2. Kecuali ditentukan lain, kayu digergaji lebih dari ukuran baku (kayu lebih), tidak mempunyai kayu kurang atau kayu pas. Toleransi ukuran lebih seperti tercantum pada Tabel 7.

8.3. Untuk mencegah terjadinya pecah pada waktu pengeringan dan penyimpanan, bontos kayu dilabur dengan bahan pelabur yang baik.

8.4. Untuk kayu yang mudah diserang jamur atau serangga penggerek, sebelum dikeringkan diawetkan terlebih dahulu dengan anti jamur atau anti penggerek.

8.5. Setelah digergaji kayu harus dikeringkan, baik dengan pengeringan alami maupun dengan tanur.

9. Syarat Mutu

9.1. Jenis kayu

Jenis kayu gergajian harus sesuai dengan nama jenis kayu perdagangan yang tercantum dalam dokumen.

9.2. Mutu penampilan

Penetapan mutu penampilan kayu gergajian didasarkan pada persyaratan ukuran, persyaratan cacat dan persyaratan potongan, dikelompokkan menjadi:

9.2.1. Syarat mutu sortimen papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok

  1. Pada sortimen papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok, pecah tertutup diperkenanlan pada salah satu bontos atau keduanya dengan jumlah panjang pecah tidak lebih dari 8% panjang kayu.
  2. Persyaratan ukuran, persyaratan cacat lainnya dan persyaratan potongan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Syarat mutu sortimen papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok.

No.

Karakteristik

P

D

T

M *)

I

Ukuran - p (m)

> 2,50

> 1,00

> 1,00

> 1,00

II

Cacat
- Lengkung
- Membusur
- Mks - Ø
- jrk
- Pingul

- Hati (khusus balok)

<
0,7%
x)
< 1/3 ml
> 0,75 m
x)

sehat

<
1,0%
x)
<
1/3 ml
> 0,50 m
x)

sehat


-)
-)
-)
-)
< 1/8 ml
1 sudut
sehat


-)
-)
-)
-)
-)

-)

III

Potongan
- Mb - %

- jml
- ukuran
- Ms - %
- jml
- ukuran
- Cs


> 75% **)
Guse < 1/3 ml
<
5 bh
1 m x 8 cm
<
25%
-)
-)
x)

> 65% **)
Guse
< 5 bh
0,7 m x 6 cm
>
25%
-)
-)
< 10%

-)
-)
-)
-)
> 75%
< 5 bh
0,75m x 6 cm
<
25%

-)
-)
-)
-)
-)


-)

Keterangan :
*) adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-) adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x) adalah tidak diperkenankan

9.2.2. Syarat mutu sortimen papan lis

  1. Panjang sekurang-kurangnya 1,0 m.
  2. Diperkenankan ada pecah tertutup pada salah satu bontos atau keduanya dengan jumlah pancang pecah tidak lebih dari 2% panjang kayu.
  3. Persyaratan cacat lainnya dan persyaratan potongan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Syarat mutu sortimen papan lis

No.

Karakteristik

P

D

T

M *)

I

Cacat
- Lengkung
- Membusur
- Pingul



< 0,7%
x)
x)



< 1,0%
x)
x)



-)
-)
< 1/8 ml
1 sudut
pada ml
terjelek


-)
-)
-)


II

Potongan
- Mb - %

- jml
- ukuran
- Ms - %
- jml
- ukuran
- Cs


> 75%

< 3 bh
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)


> 75% **)
Guse < 1/3 ml
<
3 bh
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)


-)

-)
-)
> 75%
< 3 bh
0,75 m x ml
<
25%


-)

-)
-)
-)
-)
-)
-)

Keterangan :
*) adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-) adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x) adalah tidak diperkenankan

9.2.3. Syarat mutu sortimen broti

  1. Panjang sekurang-kurangnya 1,0 m.
  2. Persyaratan cacat dan persyaratan potongan, lihat Tabel 4.

Tabel 4. Syarat mutu sortimen broti

No.

Karakteristik

P

D

T

M *)

I

Cacat
- Lengkung
- Membusur
- Mks - Ø
- jrk
- Pingul
- broti kecil

- broti besar

- Petup

< 0,7%
x)
< 1/3 ml
> 0,75 m

x)

x)

< 4% p

< 1,0%
x)
< 1/3 ml
> 0,50 m

x)

x)

< 8% p

-)
-)
-)
-)

< 1/8 ml
1 sudut
< ¼ ml
1 sudut
-)

-)
-)
-)
-)

-)

-)

-)

II

Potongan
- Mb - %


- jml
- ukuran
- Ms - %
- jml
- ukuran
- Cs


> 75%


-)
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)


> 75% **)
Guse < 1/3 ml
ml/mt
-)
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)


-)


-)
-)
>
75%
-)
0,75m x ml
< 25%


-)


-)
-)
-)
-)
-)
-)

Keterangan :
*) adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-) adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x) adalah tidak diperkenankan

9.2.4. Syarat mutu sortimen kayu gergajian pendek

Syarat mutu sortimen kayu gergajian pendek, dipisahkan menjadi 2 syarat mutu, yaitu syarat mutu sortimen papan lebar pendek, papan tebal pendek, papan sempit pendek dan papan lis pendek (lihat Tabel 5) dan syarat mutu sortimen broti (lihat Tabel 6).

Tabel 5. Syarat mutu sortimen papan lebar pendek, papan tebal pendek, papan sempit pendek, papan lis pendek dan balok pendek

No. Karakterstik P D T M *)
1
2
3

Mb (tanpa cacat)
Ms (mempunyai Cr)
Cs

1 ml
1 ml + 2 mt tanpa lg
x)
1 ml **) Guse
1 ml + 2 mt
x)
-)
2 ml + 2 mt
x)

-)
-)
-)

Keterangan :
*) adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-) adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x) adalah tidak diperkenankan

Tabel 6. Syarat mutu sortimen broti pendek

No. Karakterstik P D T M *)
1
2
3

Mb (tanpa cacat)
Ms (mempunyai Cr)
Cs

2 ml+ 2 mt **) Guse 1 sudut
x)
x)
2 ml + 2 mt **) Guse
x)
x)
-)
2 ml & 2 mt
x)

-)
-)
-)

Keterangan :
*) adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-) adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x) adalah tidak diperkenankan

10. Syarat Ukuran

110.1. Sistem satuan ukuran

Sistem satuan ukuran yang diterapkan adalah sistem satuan internasional (SI).

10.2. Alat ukur

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur dan menguji kayu gergajian, adalah alat ukur yang telah dikalibrasi oleh instansi yang berwenang.

10.3. Dimensi

Besarnya ukuran tebal, lebar dan panjang kayu gergajian sesuai dengan ukuran baku.

10.4. Toleransi

Toleransi ukuran kayu gergajian dapat dilihat pada Tabel 7.

No.

Ukuran Baku

Toleransi

1

2

3

Tebal : < 3 cm
> 3 cm
Lebar : < 8 cm
> 8 cm
Panjang : < 1 m
> 1 m
< 3 mm
< 6 mm
< 3 mm
< 6 mm
< 25 mm
< 50 mm

11. Cara Uji

11.1. Prinsip pengujian

Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) terhadap kecermatan penetapan jenis kayu, ukuran dan penilaian cacat-cacat yang nampak.

11.2. Peralatan pengujian

Meteran, jangka sorong, pisau dan kaca pembesar (loupe).

11.3. Syarat pengujian

11.3.1. Kayu ditempatkan dan disusun sedemikian rupa menurut jenis kayu dan sortimen serta mudah dibalik.

11.3.2. Pengujian dilakukan pada siang hari atau ditempat yang terang (pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu.

11.3.3. Pengujian dilakukan secara sensus (100%), sedangkan untuk keperluan pemeriksaan ukuran dan mutu penampilan dilakukan terhadap kayu gergajian contoh, diambil secara acak dan harus mewakili setiap sortimen dan kelas mutu yang ada. Jumlah kayu gergajian contoh dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Jumlah batang kayu gergajian contoh

No.

Populasi per partai

Kayu gergajian contoh

1
2
3
4
5

< 500
501 - 1000
1001 - 2000
2001 - 3000
> 3001

35
60
80
125
5%

Pemeriksaan terhadap jumlah batang dan jenis kayu dilakukan secara sensus (100%).

11.4. Pelaksanaan pengujian

11.4.1. Uji jenis kayu

Cara uji jenis kayu adalah dengan memeriksa ciri umum dan struktur anatomi kayu.

11.4.2. Uji dimensi

  1. Tebal diukur pada bagian tebal tertipis dari kayu, dalam satuan senti-meter (cm).
  2. Lebar diukur pada bagian lebar tersempit dari kayu, dalam satuan senti-meter (cm).
  3. Panjang diukur pada jarak terpendek antara kedua bontos, dalam satuan meter (m).
  4. Isi ditetapkan dengan mengalikan : tebal, lebar dan panjang kayu dalam satuan meter kubik (m3) dengan 4 desimal (empat angka di belakang koma).

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

        t X l X p Isi  = -----------          10.000 

11.4.3. Uji mutu penampilan

  1. Permukaan pengujian

Pengamatan, pengukuran dan penilaian cacat serta pembuatan potongan Mb/Ms dilakukan pada permukaan pengujian kayu gergajian. Permukaan pengujian untuk setiap sortimen seperti tercantum dalam Tabel 9.

Tabel 9. Permukaan pengujian kayu gergajian

No. Sortimen Permukaan pengujian Keterangan
1. Papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok ml, terjelek
2. Broti ml, terjelek Cs pada mt diproyeksikan ke permukaan pengujian dianggap Ms
3. Papan lis ml, terbaik Cs pada ml terjelek diproyeksikan ke permukaan pengujian dianggap MS
4. Kayu gergajian pendek keempat permukaan Tanpa membuat potongan Mb atau Ms
  1. Langkah pengukuran dan penilaian cacat
  • Cacat lengkung. Ukur kedalaman lengkung pada bagian terdalam dan bandingkan dengan panjang kayu dalam satuan %.
  • Cacat membusur. Amati ada tidaknya cacat membusur dan coba amati mudah tidaknya diluruskan dalam pemakaian.
  • Cacat pecah tertutup. Ukur panjang semua pecah tertutup yang terdapat pada setiap ujung kayu dan jumlahkan, kemudian bandingkan dengan panjang kayu dalam satuan %.
  • Cacat mata kayu sehat. Ukur Ø Mks dan bandingkan dengan permukaan lebar, apakah < 1/3 ml atau lebih, serta ukur jarak antar mata kayunya.
  • Cacat pingul. Amati lokasi pingul apakah terdapat pada satu sudut atau lebih, kemudian ukur lebarnya dan bandingkan dengan ml atau mt-nya.
  • Hati (khusus sortimen balok). Amati sehat tidaknya hati pada setiap bontosnya.
  • Cacat lainnya. Amati jenis, ukuran dan penyebaran cacat lainnya serta nilai apakah masuk Cr, Cs atau Cb.
  1. Langkah pembuatan potongan

Buat potongan Mb sesuai dengan persyaratan mutu P dan hitung persentasinya. Apabila tidak memenuhi syarat, buat potongan Mb untuk persyaratan D dan apabila masih tidak memenuhi syarat buat potongan Ms

  1. Penetapan mutu akhir

Berdasarkan hasil penilaian terhadap setiap cacat yang ada serta persentase potongan Mb/Ms dapat ditentukan mutunya. Mutu penampilan kayu gergajian adalah mutu yang terendah.

12. Syarat Lulus Uji

12.1. Kayu gergajian contoh

12.1.1. Dimensi

Kecuali ditentukan lain, dimensi kayu gergajian contoh dianggap lulus uji apabila ukuran lebihnya tidak melebihi toleransi yang diperkenankan. Tebal dan panjangnya tidak mempunyai kayu kurang atau kayu pas, sedangkan lebarnya diperkenankan mempunyai kayu pas dan kayu kurang (< 5 mm), asalkan jumlah batangnya hanya < 10% dari jumlah batang kayu gergajian contoh.

12.1.2. Mutu penampilan

Mutu penampilan kayu gergajian contoh dianggap lulus uji apabila mutunya sesuai dengan persyaratan mutu yang tercantum pada Tabel 2, 3, 4, 5 dan 6.

12.2. Partai kayu gergajian

12.2.1. Apabila > 90% dari jumlah kayu gergajian contoh lulus uji, maka partai tersebut dinyatakan lulus uji.

12.2.2. Apabila yang lulus uji kurang dari 90%, maka contoh uji ditambah sebesar contoh pertama, dengan hasil pengujiannya dijumlahkan. Apabila > 90% dari jumlah hasil pengujian tersebut lulus uji, maka partai tersebut dinyatakan lulus uji.

13. Syarat Penandaan

13.1. Pada kayu gergajian

pada setiap bundel kayu gergajian dimarkahkan tanda pengenal perusahaan (TPP), menggunakan bahan yang tidak udah luntur, terhapus atau hilang.

13.2. Pada kemasan

Tanda yang dimarkahkan pada satu sisi kemasan adalah :

  • Buatan Indonesia
  • Nama pabrik (tanda pengenal perusahaan)
  • Nama dan kode barang
  • Ukuran (panjang, lebar dan tebal)
  • Kelas mutu penampilan
  • Nomor kontrak
  • Nomor kemasan
  • Tujuan pengiriman (pelabuhan tujuan)
  • Tanda atau keterangan lain atas kesepakatan antara penjual dengan pembeli
  • Nomor SNI

14. Pengemasan

Kayu gergajian yang akan diekspor atau diperdagangkan harus dikemas sesuai dengan cara pengemasan yang ditetapkan.




Sabtu, 25 April 2009

SURAT DARI TAHUN 2070


Untuk: Penghuni Bumi Tahun 2009


Aku hidup di tahun 2070 dan aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku


Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun, semua sangat berbeda. Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya. Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng.


Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan:

JANGAN MEMBUANG-BUANG AIR”

Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi, 80% makanan adalah makanan sintetis.


Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.


Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.


Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang. Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air, morfologi manusia mengalami perubahan yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.


Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup sebanyak 137 m3/orang/hari [31,102 galon]. Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkualitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.


Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Di sini di tempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli.


Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: “Ayah! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?”. Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga.


Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya. Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!

Renungkanlah ...


SELAMAT HARI BUMI !!!

SAVE THE EARTH, NOW !!!

22 April 2009


Dokumen ini dipublikasi di majalah "Crónica de los Tiempos" April 2002 (Ria Ellwanger, en collaboration avec Lopez Chavez Ariel Alahin)

Terjemahan: Yuli Suliyanti (yuliana suliyanti@yahoo.co.id)

SHINE LIKE STARS


Kemenangan-Nya atas maut ...

Karya penyelamatan-Nya ...

Kuasa-Nya yang sanggup memulihkan ...

Adalah Kasih yang tiada tara bagiku.


Keberdosaanku di masa kegelapanku

Telah ditebus-Nya di kayu salib

Tidak dapat kubayangkan ya Yesus ...

Betapa beratnya penderitaan-Mu ...


Ya Allahku, Terang-Mu telah menerangi kehidupanku.

Sehingga aku pun boleh hidup dalam Terang-Mu

Beri padaku ya Allahku, kekuatan untuk menyatakan ...

Menyatakan Terang-Mu kepada mereka ...


Shine like stars

Demikian kiranya aku seperti bintang ...

Bintang yang bercahaya bagi mereka ...

Kobarkan ya Bapa semangat itu dalam hatiku

Biar kaki, tangan, dan seluruh tubuhku menjadi berkat bagi mereka


Yeremia, Daniel, Yusuf adalah tokoh-tokoh muda yang Kau pakai

Menyatakan bahwa Engkau Allah, sanggup memenangkan segala perkara

Biarlah aku mencoba menjadi seperti mereka ...

Setia ...

Setia ...

Dan setia sampai akhir hidupku.


We will shine, shine like stars above

Shinning in Your light, guided by Your love

Let Your fire burn in us, burning like the sun

As we glorify, show Your Kingdom come in

All the earth …


WE WILL SHINE LIKE STARS ABOVE

AS WE BURNING LIKE THE SUN …


BUDAYA CORET BAJU: SALAH SATU BUDAYA KONSUMERISME

Sumber: http://community.kompas.com/photo/image/corat1.jpg

Budaya coret baju sering terjadi saat setelah ujian nasional berakhir. Pemandangan ini selalu mewarnai beberapa ruas jalan di perkotaan. Tidak jarang ini menyebabkan terganggunya kelancaran arus lalu lintas. Sebab, budaya ini juga turut diwarnai dengan ”parade” konvoi.

Budaya coret baju seakan-akan menggambarkan kemenangan yang pasti dicapai oleh para siswa-siswi yang telah berjuang dengan berbagai cara untuk mencapai ”kemenangan perang” ujian nasiona (UN)l. Padahal baju yang mereka pakai itu dapat disumbangkan kepada orang-orang yang kurang mampu. Selain itu, belum tentu pula mereka pasti lulus, mengingat standard nilai kelulusan UN tahun ini yang cukup tinggi. Ini bukan pandangan skeptis atau tidak yakin pada kemampuan anak bangsa ini, tetapi perlu disadari pada kenyataan kecurangan yang terjadi pada tahun-tahun lalu. Penulis sendiri pun lulus oleh karena ”kebaikan” guru. Kenyataan ini tidak perlu ditutup-tutupi dan ”dibumbui” dengan ”bumbu-bumbu” yang cukup membuat ”ēnek”.

Perlu disadari, budaya coret baju cukup menggambarkan pemborosan. Bagaimana tidak, biaya membeli cat semprot (pilox), spidol, dan berbagai ”senjata” corat-coret lainnya telah menghabiskan uang orangtua mereka hanya untuk kegiatan yang tidak berguna. Adakah dampak positif dari terlaksananya ”pesta coret baju” ini? Padahal uang tersebut dapat digunakan untuk membeli makanan yang disukai sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri karena telah melalui masa UN dengan baik. Atau uangnya dapat digunakan untuk kegiatan positif, contohnya camping, acara keakraban, dan kegiatan lainnya yang lebih meningkatkan hubungan pertemanan dan refreshing bersama.

Beberapa siswa/i menganggap budaya coret baju adalah sesuatu kegiatan gaul dan punk. Kebersamaan lebih dirasakan ketika acara ”ritual” ini dilaksanakan. Apabila belum dilaksanakan, maka ”pejuang-pejuang” UN belum ”merdeka”. Fenomena ini perlu diakhiri dengan mengajak peserta pendidikan untuk memahami bahwa ritual dari budaya coret baju adalah suatu budaya kebodohan yang harus ”dipunahkan” dengan segera. Budaya coret baju bukan seni, bukan juga suatu bentuk gaul, tetapi suatu bentuk budaya kuno dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Generasi muda Indonesia adalah generasi yang kreatif dan inovatif. Tentunya ada cara lain untuk menyatakan kekreatifannya saat UN berakhir. Ajang kreatif tersebut perlu difasilitasi penyelenggara dan fasilitator pendidikan. Sehingga, budaya coret baju hanya menjadi ”acara ritual” belaka yang tinggal sejarah.


SELAMAT UNTUK ADIK-ADIK YANG TELAH BERJUANG ...

SEMOGA LULUS SEMUANYA YA >>> ;)

Tail