Property Kita.com

”PropertyKita.com

Sabtu, 25 April 2009

SURAT DARI TAHUN 2070


Untuk: Penghuni Bumi Tahun 2009


Aku hidup di tahun 2070 dan aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku


Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun, semua sangat berbeda. Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya. Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng.


Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan:

JANGAN MEMBUANG-BUANG AIR”

Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya. Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi, 80% makanan adalah makanan sintetis.


Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah. Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.


Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.


Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang. Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air, morfologi manusia mengalami perubahan yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.


Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup sebanyak 137 m3/orang/hari [31,102 galon]. Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkualitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.


Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun. Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Di sini di tempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli.


Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu. Dia bertanya: “Ayah! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?”. Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian dan banyak orang lain juga.


Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya. Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!

Renungkanlah ...


SELAMAT HARI BUMI !!!

SAVE THE EARTH, NOW !!!

22 April 2009


Dokumen ini dipublikasi di majalah "Crónica de los Tiempos" April 2002 (Ria Ellwanger, en collaboration avec Lopez Chavez Ariel Alahin)

Terjemahan: Yuli Suliyanti (yuliana suliyanti@yahoo.co.id)

SHINE LIKE STARS


Kemenangan-Nya atas maut ...

Karya penyelamatan-Nya ...

Kuasa-Nya yang sanggup memulihkan ...

Adalah Kasih yang tiada tara bagiku.


Keberdosaanku di masa kegelapanku

Telah ditebus-Nya di kayu salib

Tidak dapat kubayangkan ya Yesus ...

Betapa beratnya penderitaan-Mu ...


Ya Allahku, Terang-Mu telah menerangi kehidupanku.

Sehingga aku pun boleh hidup dalam Terang-Mu

Beri padaku ya Allahku, kekuatan untuk menyatakan ...

Menyatakan Terang-Mu kepada mereka ...


Shine like stars

Demikian kiranya aku seperti bintang ...

Bintang yang bercahaya bagi mereka ...

Kobarkan ya Bapa semangat itu dalam hatiku

Biar kaki, tangan, dan seluruh tubuhku menjadi berkat bagi mereka


Yeremia, Daniel, Yusuf adalah tokoh-tokoh muda yang Kau pakai

Menyatakan bahwa Engkau Allah, sanggup memenangkan segala perkara

Biarlah aku mencoba menjadi seperti mereka ...

Setia ...

Setia ...

Dan setia sampai akhir hidupku.


We will shine, shine like stars above

Shinning in Your light, guided by Your love

Let Your fire burn in us, burning like the sun

As we glorify, show Your Kingdom come in

All the earth …


WE WILL SHINE LIKE STARS ABOVE

AS WE BURNING LIKE THE SUN …


BUDAYA CORET BAJU: SALAH SATU BUDAYA KONSUMERISME

Sumber: http://community.kompas.com/photo/image/corat1.jpg

Budaya coret baju sering terjadi saat setelah ujian nasional berakhir. Pemandangan ini selalu mewarnai beberapa ruas jalan di perkotaan. Tidak jarang ini menyebabkan terganggunya kelancaran arus lalu lintas. Sebab, budaya ini juga turut diwarnai dengan ”parade” konvoi.

Budaya coret baju seakan-akan menggambarkan kemenangan yang pasti dicapai oleh para siswa-siswi yang telah berjuang dengan berbagai cara untuk mencapai ”kemenangan perang” ujian nasiona (UN)l. Padahal baju yang mereka pakai itu dapat disumbangkan kepada orang-orang yang kurang mampu. Selain itu, belum tentu pula mereka pasti lulus, mengingat standard nilai kelulusan UN tahun ini yang cukup tinggi. Ini bukan pandangan skeptis atau tidak yakin pada kemampuan anak bangsa ini, tetapi perlu disadari pada kenyataan kecurangan yang terjadi pada tahun-tahun lalu. Penulis sendiri pun lulus oleh karena ”kebaikan” guru. Kenyataan ini tidak perlu ditutup-tutupi dan ”dibumbui” dengan ”bumbu-bumbu” yang cukup membuat ”ēnek”.

Perlu disadari, budaya coret baju cukup menggambarkan pemborosan. Bagaimana tidak, biaya membeli cat semprot (pilox), spidol, dan berbagai ”senjata” corat-coret lainnya telah menghabiskan uang orangtua mereka hanya untuk kegiatan yang tidak berguna. Adakah dampak positif dari terlaksananya ”pesta coret baju” ini? Padahal uang tersebut dapat digunakan untuk membeli makanan yang disukai sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri karena telah melalui masa UN dengan baik. Atau uangnya dapat digunakan untuk kegiatan positif, contohnya camping, acara keakraban, dan kegiatan lainnya yang lebih meningkatkan hubungan pertemanan dan refreshing bersama.

Beberapa siswa/i menganggap budaya coret baju adalah sesuatu kegiatan gaul dan punk. Kebersamaan lebih dirasakan ketika acara ”ritual” ini dilaksanakan. Apabila belum dilaksanakan, maka ”pejuang-pejuang” UN belum ”merdeka”. Fenomena ini perlu diakhiri dengan mengajak peserta pendidikan untuk memahami bahwa ritual dari budaya coret baju adalah suatu budaya kebodohan yang harus ”dipunahkan” dengan segera. Budaya coret baju bukan seni, bukan juga suatu bentuk gaul, tetapi suatu bentuk budaya kuno dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

Generasi muda Indonesia adalah generasi yang kreatif dan inovatif. Tentunya ada cara lain untuk menyatakan kekreatifannya saat UN berakhir. Ajang kreatif tersebut perlu difasilitasi penyelenggara dan fasilitator pendidikan. Sehingga, budaya coret baju hanya menjadi ”acara ritual” belaka yang tinggal sejarah.


SELAMAT UNTUK ADIK-ADIK YANG TELAH BERJUANG ...

SEMOGA LULUS SEMUANYA YA >>> ;)

Tail